KABUPATEN BEKASI,Kotakberita.com – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, satu-satunya lokasi penampungan sampah di Kabupaten Bekasi, kini berada di ambang kolaps. Volume sampah yang masuk setiap hari sudah jauh melebihi kapasitas maksimal, sehingga ribuan ton sampah tercecer di berbagai sudut wilayah.

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bekasi, Saeful Islam, mengungkapkan bahwa TPA Burangkeng hanya mampu menampung 800 ton sampah per hari, sedangkan produksi sampah warga Bekasi mencapai 2.100 ton per hari.

“Sisa 1.300 ton sampah itu akhirnya tercecer, memenuhi tong-tong sampah, sungai, bahkan lahan kosong di berbagai penjuru daerah,” ujar Saeful, Rabu

Dengan populasi sekitar 3 juta jiwa dan rata-rata produksi sampah 0,7 kilogram per orang per hari, permasalahan ini menjadi tantangan serius. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahkan telah melayangkan teguran resmi kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi, menuntut langkah konkret pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Saeful menilai, ketergantungan pada sistem lama sudah tidak bisa dipertahankan. Menurutnya, alokasi anggaran murni tahun 2026 semestinya sudah mencakup pengadaan teknologi pengelolaan sampah baru. Namun, karena kendala teknis, realisasinya ditunda dan akan dimasukkan dalam anggaran perubahan.

Salah satu solusi yang tengah disiapkan adalah pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan permukiman dan industri. Dengan konsep ini, sampah akan diolah sejak dari sumbernya, sementara TPA hanya menerima residu yang tidak dapat diolah kembali.

“Pengembang dan kawasan industri akan diwajibkan memiliki TPST. Edukasi kepada masyarakat juga sudah dimulai, terutama soal pemilahan sampah organik dan non-organik dari rumah,” jelas Saeful.

Selain itu, pemerintah daerah juga merancang pembukaan lahan baru untuk menggantikan TPA Burangkeng. Dengan dukungan teknologi dan perencanaan matang, Kabupaten Bekasi menargetkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terkendali pada 2026.

“Ini tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kalau tidak dimulai sekarang, sampah bisa menjadi bom waktu bagi daerah kita sendiri,” tegasnya. (red)