KABUPATEN BEKASI,Kotakberita.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bekasi dalam beberapa hari terakhir memicu banjir di sejumlah permukiman dan kawasan perumahan. Akibatnya, ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah demi keselamatan dan mengungsi ke berbagai fasilitas umum.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat, sebanyak 5.344 jiwa dari 1.336 kepala keluarga (KK) terdampak langsung banjir. Ribuan warga tersebut kini menempati lokasi-lokasi pengungsian yang disiapkan pemerintah daerah.
Lokasi pengungsian tersebar di masjid, musala, aula kantor desa, sekolah, pondok pesantren, hingga rumah warga yang dinilai aman dari genangan air. Warga mengaku banjir kali ini datang lebih cepat dan berdampak lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kami sudah sering kebanjiran, tapi sekarang rasanya makin parah. Baru hujan beberapa jam, air langsung naik,” ujar Siti (42), warga Kecamatan Tambun Utara, saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin (19/1/2025).
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, mengatakan pihaknya telah membuka 20 titik pengungsian yang tersebar di 10 desa pada tujuh kecamatan. Pengungsian bersifat sementara dengan memanfaatkan fasilitas umum di lingkungan warga.
“Pengungsian tersebar di Kecamatan Babelan, Tambun Utara, Cibitung, Sukawangi, Sukakarya, Cikarang Utara, dan Kedungwaringin. Fasilitas yang digunakan antara lain masjid, musala, aula kantor desa, sekolah, pondok pesantren, hingga rumah warga yang dinilai aman dari genangan,” jelas Dodi.
Menurutnya, Kecamatan Cibitung menjadi wilayah dengan jumlah titik pengungsian terbanyak seiring meluasnya genangan yang merendam permukiman padat penduduk dan kawasan perumahan. Ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan mencapai 30 hingga 70 sentimeter, bahkan lebih di area cekungan.
Sementara di Kecamatan Babelan, warga terdampak mengungsi di Masjid Al Maghfur, Desa Babelan Kota. Sebagian warga lainnya memilih bertahan di lantai dua rumah atau di rumah kerabat yang tidak terdampak, sambil tetap bersiaga jika debit air kembali meningkat.
Adapun di Kecamatan Tambun Utara, pengungsian terpusat di Perumahan Green Avenue, Desa Srijamur, serta Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan, Desa Srijamukti. Lokasi tersebut dipilih karena relatif lebih tinggi dan mudah diakses tim logistik serta relawan.
BPBD Kabupaten Bekasi bersama unsur terkait terus mengintensifkan penanganan darurat. Petugas gabungan melakukan evakuasi warga, khususnya lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas, menggunakan perahu karet dan kendaraan operasional.
Selain itu, BPBD juga mendirikan tenda pengungsian, menyalurkan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, tikar, perlengkapan bayi, serta melakukan pendataan rumah dan fasilitas umum yang terdampak.
“Penanganan dilakukan secara terpadu bersama TNI, Polri, PMI, pemerintah kecamatan dan desa, Destana, serta relawan kebencanaan. Fokus utama kami adalah keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar selama di pengungsian,” kata Dodi.
BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. Warga yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah, dan wilayah rawan banjir diminta terus memantau kondisi lingkungan sekitar.
“Jika terjadi kenaikan debit air, tanggul rawan jebol, atau kondisi darurat lainnya, segera laporkan ke aparat desa, kecamatan, atau petugas BPBD agar bisa segera ditangani,” pungkasnya. (tbl)







