CIKARANG PUSAT, Kotakberita.com – Pemerintah Kabupaten Bekasi bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna mengendalikan curah hujan di wilayah Bekasi. Langkah ini diambil sebagai upaya meringankan beban daerah yang terdampak banjir dalam sepekan terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Deputi I BNPB untuk memastikan pelaksanaan modifikasi cuaca berjalan optimal.
“Kami meminta bantuan BNPB untuk melakukan modifikasi cuaca terkait curah hujan di Kabupaten Bekasi. Informasi awal akan dilakukan hingga 24 Januari 2026, namun kami meminta agar durasinya diperpanjang selama potensi hujan ekstrem masih tinggi,” ujar Muchlis usai Rapat Evaluasi Bencana, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, upaya modifikasi cuaca sangat penting mengingat kondisi lapangan masih dalam tahap pemulihan pascabanjir. Berdasarkan data BPBD, puncak banjir terjadi pada Minggu lalu dan berdampak pada 17 kecamatan. Saat ini, genangan telah surut di 12 kecamatan, namun debit air kiriman maupun hujan lokal masih mengancam wilayah hilir, khususnya Muaragembong.
Muchlis menjelaskan, banjir yang melanda Kabupaten Bekasi disebabkan oleh kombinasi curah hujan lokal yang tinggi sejak Jumat lalu serta adanya air kiriman dari wilayah hulu.
“Hasil dari modifikasi cuaca ini diharapkan dapat mengurangi volume hujan yang turun, sehingga beban di darat tidak semakin berat. Kita ingin memberikan ruang bagi air untuk surut, terutama di titik-titik tanggul kritis,” jelasnya.
Terkait efektivitas TMC, Muchlis menyebut bahwa BNPB memiliki kewenangan teknis untuk melakukan pengukuran secara detail. Namun, langkah ini menjadi bagian dari upaya komprehensif Pemkab Bekasi selain penanganan tanggul jebol sepanjang delapan meter di Muaragembong serta pemantauan titik-titik tanggul kritis di wilayah Cabangbungin.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim penghujan diprediksi terjadi pada Januari. Oleh karena itu, modifikasi cuaca diharapkan mampu meminimalisir potensi banjir susulan di tengah kondisi sungai yang masih meluap.
“Kita upayakan semua jalur, baik penanganan di darat melalui penguatan tanggul, maupun di udara melalui modifikasi cuaca,” pungkasnya. (tbl)







